| (ilustrasi: https: citraindonesia.com) |
“Siapa yang menciptakan bahasa?” tentu banyak yang bertanya demikian. Bahasa itu bersifat arbitrer atau manasuka. Artinya tidak ada hubungan langsung antara lambang dan yang dilambangkan. Misalnya, kata “jalan” melambangkan tempat untuk lalu lintas orang, kendaraan, dan sebagainya.
Kita tidak bisa menjelaskan objek tersebut disebut jalan, bukan “jilan” atau “julun”. Dengan kata lain, pemberian nama terhadap suatu objek itu dilakukan sesukanya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa itu bersifat manasuka tergantung penutur atau pengguna bahasanya.
Selain bersifat
arbitrer, bahasa juga merupakan hasil dari konvensi atau kesepakatan suatu
kelompok sosial atau komunitas. Sebagai contoh, setelah tempat untuk lalu
lintas orang, kendaraan, dan sebagainya disebut “jalan” maka diperlukan
konvensi atau kesepakatan dari beberapa orang untuk menyebutnya sebagai “jalan”
sehingga suatu kelompok sosial atau komunitas sepakat untuk menyebutnya
demikian.
Mugkin bahasa bukan
bidang semua orang, dalam arti enggak semua orang suka belajar bahasa. Namun,
suka-enggak suka perubahan zaman menuntut kita “harus bisa” meskipun kita
kurang suka.
Nah, sekarang gimana caranaya supaya kita bisa enjoy belajar bahasa, atau dalam hal ini enggak usah jauh-jauh dulu, minimal belajar bahasa dengan asik? Nah, berikut ini adalah cara-cara yang Bang Fauzan (Ayah linguistiknya ambisvers sekaligus dosen di Universitas Indonesia) lakukan selama belajar bahasa.
1. Bahasa Adalah Kebiasaan atau “Language is Matter of Habbit"
Menurut beliau, kalau emang kita mau menguasi suatu bahasa, kita harus menggunakan bahasa tersebut terus-menerus. Cari bahan-bahan bacaan bahasa yang kita pelajari untuk membantu kita berlatih bahasa yang ingin kita kuasai.
2. Malu Pangkal Nggak Maju
Enggak ada ceritnya malu-malu dalam belajar bahasa. Bahasa itu kan alat komunikasi. Sekarang kalau kita malu-malu latihan, kapan kita bisa maju? Buang jauh-jauh rasa malu. Kita enggak perlu takut latihan hanya karena pengetahuan kita di grammar masih kurang. Justru, seiring dengan kita latihan, logika kita justru akan semakin terasah dan pada akhirnya masalah grammar itu pun bisa teratasi dengan sendirinya.
3. Cari Partner Latihan
Kalau belajar bahasa, tapi enggak “ngomomg” itu rasanya sama kayak makan enggak pakai garam: hambar, jadi sebetulnya yang penting adalah kita berani bicara dengan bahasa yang kita pelajari, dan pastinya dalam hal ini punya partner yang bisa diajak ngobrol lebih enak daripada sendiri kan? Enggak ada partner latihan? Cari di Internet. Please, sekarang zaman udah canggih kita bisa terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia dengan internet.
4. Cari Orang Asing (Bule)
Bule-bule bisa ditemui di berbagai macam objek wisata pastinya. Engaak usah malu untuk menyapa mereka. Bule-bule itu tau kalau orang Indonesia itu sangat ramah, dan mereka senang kalau ada yang menyapa.
5. Film sebagai Media Belajar
Suka nonton film di Netflix? Suka ”bajak” film di link haram atau di Telegram? Coba sekali-kali latihan kemampuan listening kamu dengan nonton film tanpa subtitle. Kalau masih terlalu sulit, kamu bisa download subtitle dalam bahasa aslinya. Selain melatih pendengaran, denagan membaca subtitle dalam bahasa aslinya otomatis otak kamu juga belajar membaca cepat dan berusaha untuk menegrti jalan ceritanya.
6. Cari Lagu-lagu dari Bahasa Asing
Bisa dari Spotify, Joox, Apple Music, atau YouTube. Cari liriknya, coba pahami maknanya, dan dinyanyikan untuk melatih pelafalanya.
7. Jadikan 'gadget' sebagai Sarana Belajar
Hampir semua orang sekarang enggak bisa lepas dari handphone. Kalau gitu kenapa enggak kita jadikan handphone sebagai media belajar bahasa? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah tampilan muka (Interface) dengan bahasa yang dipelajari. Otomatis mau enggak-mau, suka enggak-suka (bahasa) itu harus dihadapi.
8. Belajar Menulis
Baca oke, mendengar oke, grammar oke, sekarang coba tinggal belajar menulis. Perlahan, tapi pasti. Cobalah buat blog yang isinya tulisan kamu menggunakan bahasa yang kamu pelajari. Enggak harus tulisan serius dan enggak perlu panjang-panjang. Buat tulisan yang kamu suka, apa yag ada di pikiran kamu coba tulis. Merasa belum mampu? Oke, coba update status di Twitter, Instagram, atau Facebook dengan bahasa asing yang kamu pelajari. Bukannya mau “pamer”, tapi kalau enggak pernah dimulai enggak akan pernah bisa.
10. Buat jadwal belajar dan komitmen dengan jadwal tersebut
Mahir atau tidak, jago atau tidak, itu semua soal pilihan. Kalau kamu serius mau bisa menguasai suatu bahasa, kamu harus benar-benar komitmen dengan diri kamu sendiri. Buat jadwal sendiri di luar les atau kursus yang mungkin sudah kamu ikuti. Pastikam kamu harus komitmen dengan jadwal yang kamu buat. Kalau perlu, kamu bisa ajak teman kamu (baik yang di dalam maupun luar negeri) untuk ikut belajar bersama.
Agustivana Mahrdika, Anggota ULC angkatan 2021
Posting Komentar